Foto: SHVETS production / Pexels
Ringkasan Cepat
- Revenge bedtime procrastination adalah perilaku menunda tidur secara sengaja untuk mendapatkan waktu luang yang tidak didapat di siang hari.
- Penyebab utamanya adalah kurangnya kontrol atas jadwal dan stres di siang hari, bukan masalah tidur.
- Dampak negatifnya meliputi kelelahan, kesulitan konsentrasi, kecemasan, dan masalah kesehatan fisik.
- Solusi melibatkan penjadwalan waktu istirahat di siang hari dan menciptakan rutinitas malam yang menenangkan.
Kamu sudah seharian sibuk dengan pekerjaan, urusan rumah, atau kewajiban lainnya. Begitu malam tiba, bukannya langsung istirahat, kamu malah asyik scrolling media sosial, nonton serial, atau main game sampai larut. Padahal, kamu tahu besok pagi akan kelelahan.
Fenomena ini punya nama: revenge bedtime procrastination. Istilah ini menggambarkan perilaku menunda waktu tidur secara sengaja untuk mendapatkan kembali waktu luang yang tidak didapat selama siang hari. Ini bukanlah masalah ketidakmampuan tidur seperti insomnia, melainkan sebuah pilihan sadar untuk ‘balas dendam’ atas hari yang terasa tidak punya kendali.
Apa Itu Revenge Bedtime Procrastination?
Revenge bedtime procrastination adalah keputusan sukarela untuk menunda tidur. Biasanya, ini dilakukan sebagai respons terhadap stres atau kurangnya waktu luang di siang hari.
Fenomena ini ditandai oleh tiga faktor utama. Pertama, kamu secara sadar menunda waktu tidur, yang berarti total waktu tidurmu berkurang. Kedua, tidak ada alasan valid untuk begadang, seperti sakit atau acara sosial. Ketiga, kamu menyadari bahwa penundaan tidur ini akan memiliki konsekuensi negatif pada keesokan harinya.
Meskipun istilah ini relatif baru dan populer sejak sekitar tahun 2020, konsep di baliknya sudah lama ada. Penting untuk diingat, ini bukan diagnosis klinis resmi, melainkan deskripsi pola perilaku yang banyak dialami orang.
Kenapa Kita Melakukannya? Akar Masalahnya Bukan di Malam Hari
Banyak orang merasa bahwa revenge bedtime procrastination bukanlah masalah manajemen waktu tidur, melainkan masalah manajemen waktu di siang hari. Orang melakukannya bukan karena tidak tahu tidur itu penting, tapi karena malam hari adalah satu-satunya waktu mereka merasa punya kontrol dan kebebasan.
Penyebab utama perilaku ini adalah kurangnya kontrol dan otonomi atas jadwal di siang hari. Ini seringkali terjadi karena tuntutan pekerjaan yang tinggi atau kewajiban lainnya. Orang yang paling mungkin mengalami hal ini adalah mereka yang memiliki pekerjaan dengan tingkat stres tinggi, jam kerja panjang, dan sedikit waktu istirahat.
Mereka yang merasa waktu pribadinya dirampas oleh pekerjaan atau kewajiban lain mencoba untuk mendapatkan kembali kendali tersebut di malam hari. Ini adalah mekanisme koping, cara untuk merasa bahwa diri sendiri masih punya pilihan di tengah jadwal yang padat.
Siklus yang Merusak: Dampak Mengorbankan Tidur
Meskipun terasa memuaskan di awal, kebiasaan mengorbankan tidur ini menciptakan siklus yang merusak. Kurang tidur akibat kebiasaan ini dapat dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan.
Dampak negatifnya termasuk melemahnya sistem kekebalan tubuh, kesulitan berkonsentrasi, kecemasan, dan tekanan darah tinggi. Secara mental, kurang tidur juga bisa memperburuk stres dan suasana hati, membuat kamu merasa lebih mudah marah atau sedih.
Ironisnya, ‘me time’ yang kamu curi di malam hari justru bisa membuatmu merasa lebih buruk keesokan harinya. Ini menciptakan lingkaran setan di mana kamu merasa perlu ‘balas dendam’ lagi di malam berikutnya karena siang harimu terasa lebih berat akibat kurang tidur.
Cara Mengambil Kembali Kendali Tanpa Kehilangan ‘Me Time’
Mengatasi revenge bedtime procrastination berarti mengubah pendekatanmu terhadap waktu luang. Fokus utamanya adalah bagaimana cara menciptakan waktu luang di siang hari, bukan sekadar menyuruh tidur lebih awal.
Salah satu strategi yang bisa dicoba adalah menjadwalkan waktu istirahat singkat di siang hari. Ini bisa berupa jeda 15-30 menit untuk melakukan hal yang kamu nikmati, seperti membaca buku, mendengarkan musik, atau sekadar diam. Menetapkan batas waktu yang tegas untuk berhenti bekerja juga sangat penting. Setelah jam kerja selesai, benar-benar jauhkan diri dari pekerjaan.
Menciptakan rutinitas malam yang menenangkan juga bisa membantu sebagai pengganti ‘me time’ yang tidak sehat. Alih-alih langsung ke gadget, coba aktivitas yang menenangkan seperti membaca buku fisik, mandi air hangat, atau meditasi. Ini membantu transisi ke tidur tanpa merasa kehilangan waktu untuk diri sendiri.
Ingat, mengatasi kebiasaan ini memerlukan konsistensi dan kesediaan untuk memprioritaskan diri. Tujuannya adalah mendapatkan waktu pribadi yang berkualitas tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Komentar
Komentar sedang ditutup sementara.